Dilema Ekonomi Bengkulu: Produksi Batu Bara dan CPO Melimpah, tapi Ekspor Justru Tertekan

0
3
Ayo share artikel ini

SPIPUSAT.COM  BENGKULU, – Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI), Provinsi Bengkulu, Muhammad Irfan Octama, mengemukakan batu bara dan Crude Oil Palm (CPO) daerah itu, menghadapi dilema “Produksi Tinggi, Ekspor Tertekan”. Hal ini disampaikannya, pada Sarasehan Perekonomian Bengkulu, Kamis (9/4/2026). Data menunjukkan produksi batu bara Bengkulu pada tahun 2025 berada di kisaran 10 hingga 15 juta ton per tahun. Menempatkannya sebagai pemain penting di Sumatera setelah Sumatera Selatan sebanyak 120 juta ton dan Jambi 20 hingga 30 juta ton. Namun, BI mengungkapkan beradasarkan data ESDM, rerata ekspor batu bara Bengkulu hanya 2,41 juta ton atau sebanyak 4,41 persen.

Hal yang sama juga dialami sektor CPO. Menurut BI, tahun 2025, Produksi CPO Bengkulu sebanyak 1,38 juta ton (5,27 persen pangsa Sumatera). Produksi TBS sebanyak 4,49 juta ton (4,00 persen pangsa Sumatera). Sementara jumlah Lahan seluas 0,42 juta hektar. Meski volumenya mencapai jutaan ton, kontribusi ekspor CPO Bengkulu pada periode Januari hingga Februari 2026 masih begitu kecil dibandingkan provinsi tetangga. Bengkulu berada di posisi bawah dengan volume kumulatif yang jauh tertinggal dari Riau (2,16 juta ton) dan Sumatera Utara (0,83 juta ton).

Keempat, Diversifikasi Pasar: Mengurangi ketergantungan pada India dan Tiongkok dengan mulai menyasar pasar nontradisional untuk mengantisipasi volatilitas geopolitik. “Tanpa percepatan industri pengolahan di tingkat lokal, Bengkulu akan terus kehilangan potensi nilai tambah dari komoditas mentahnya,” katanya kemudian. Hal yang sama juga disampaikan Ekonom dari Universitas Bengkulu, Yefriza, jika perekenomian Bengkulu masih ketergantungan Sektor Primer dan Minim Hilirisasi. Menurutnya struktur ekonomi Bengkulu dinilai belum mengalami transformasi struktural yang signifikan.

“Produksi CPO Bengkulu yang relatif memadai belum sepenuhnya diikuti oleh kinerja ekspor,” ungkap Irfan. Hal ini mencerminkan masih terbukanya ruang besar untuk penguatan hilirisasi dan integrasi rantai pasok.

Bank Indonesia merekomendasikan beberapa langkah strategis untuk menjaga keberlangsungan ekonomi Bengkulu. Pertama, peningkatan konektivitas distribusi dan pengembangan industri pengolahan (hilirisasi) di daerah guna meningkatkan nilai tambah produk. Kedua, Efisiensi Logistik:
Restrukturisasi sektor logistik diperlukan untuk menekan biaya tinggi yang selama ini menjadi hambatan bagi eksportir lokal. Ketiga, Penguatan Domestic Market Obligation (DMO): Memastikan keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri (PLTU) dengan target produksi tahunan.

Saat ini, sektor pertanian masih mendominasi dengan kontribusi 25-26 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Walaupun dominasi sektor pertanian memperkuat ketahanan pangan daerah, Yefriza menekankan pentingnya hilirisasi.

Ayo share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here