SPIPUSAT.COM JAKARTA, – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat masyarakat usia produktif 15-69 tahun masih banyak yang belum memiliki rekening bank. Hal ini berpotensi menghambat penyaluran bantuan sosial (bansos) dari pemerintah. Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu mengatakan, hingga 2025 masih ada 49,7 juta masyarakat Indonesia yang belum memiliki rekening, 15,3 juta di antaranya merupakan kelompok usia produktif.
“Yang kami menaruh perhatian adalah yang usia produktif yang seharusnya sudah memiliki rekening sendiri. Itu ada 15,3 juta penduduk yang belum memiliki rekening yang akan menjadi sasaran kami bersama dengan OJK,” ujarnya saat rapat kerja dengan Komisi XI di Jakarta, Kamis (9/4/2026). Dia menjelaskan, kepemilikan rekening oleh usia produktif sangat penting karena dapat mempengaruhi kelancaran penerimaan bansos. Tanpa rekening, bantuan pemerintah berpotensi tidak diterima secara langsung oleh masyarakat penerima dan harus melalui perantara.
Kondisi tersebut, dapat menimbulkan inefisiensi dalam penyaluran bantuan, sekaligus meningkatkan risiko kebocoran karena adanya keterlibatan pihak lain dalam distribusi. Nilai Simpanan Tabungan di Perbankan Berpotensi Semakin Meningkat
“Sesuai dengan arahan Bapak Presiden, penduduk Indonesia itu memiliki akses rekening sehingga program-program pemerintah baik dalam bentuk bantuan-bantuan program, bantuan-bantuan itu dapat langsung diterima, tidak melalui tangan kedua, tangan ketiga,” jelasnya. Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan agar setiap warga Indonesia telah memiliki rekening pribadi dalam tiga tahun ke depan.
Untuk itu, LPS bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong perbankan untuk memperluas akses pembukaan rekening, khususnya bagi masyarakat usia produktif yang belum terjangkau layanan keuangan formal. Upaya tersebut dilakukan melalui berbagai kegiatan sosialisasi dan koordinasi dengan industri perbankan agar lebih aktif menjangkau masyarakat yang belum memiliki rekening. LPS menargetkan jumlah rekening usia produktif tumbuh 5 persen per tahun selama 2026-2030. Target ini lebih tinggi dibandingkan realisasi pertumbuhan jumlah rekening pada 2023-2025 sebesar 2-4 persen.
Anggito mengungkapkan, selama tiga tahun terakhir, jumlah penduduk Indonesia yang belum memiliki rekening terus berkurang, dari 59,8 juta pada 2023, lalu turun menjadi 53,2 juta pada 2024, dan menjadi 49,7 juta pada 2025. “Kami selalu bersama-sama dengan OJK untuk memastikan setiap tahun itu bisa dicapai lebih banyak. Jadi tahun lalu itu ada 3 juta tambahan rekening yang dibuka oleh pihak bank,” tuturnya.












