SPIPUSAT.COM PANGKALAN KERINCI – Batang cangkul itu mengayun-ayun, membentuk lengkung yang ritmis di bawah terik matahari Langgam, Pelalawan. Setiap kali besi tajamnya menghunjam ke tanah, ia mengambil sedikit demi sedikit lapisan teratas bumi, lalu membenamkannnya ke tepian mulsa plastik perak yang menyelimuti bedengan.
Eko Resmono, seorang veteran di dunia bertani, dengan cekatan melanjutkan rutinitasnya. Peluh yang mengucur dari pelipisnya sesekali dia usap dengan punggung tangan. Dia hadir dengan perlengkapan lengkap: baju lengan panjang abu-abu, topi sewarna, dan sepatu boot yang menjadi saksi atas ketekunannya.
Tugas Eko saat itu hampir selesai, memindahkan pasir dari drainase ke atas mulsa untuk mengokohkannya dari amukan hujan badai. Dari enam bedengan yang akan ditanami cabai setan itu, hanya tersisa dua baris terakhir yang menanti sentuhan akhir.
“Panas begini ya harus semangat, semuanya dinikmati aja,” ujar Eko dengan senyum sederhana, di bawah terik panas matahari.
Hanya beberapa ratus meter dari bedengan cabai milik Kelompok Tani Barokah, yang luasnya tak lebih dari setengah hektar, sebuah pemandangan lain mendominasi. Dari segala penjuru mata angin, jajaran pohon kelapa sawit (Elaeis guineensis) tegak bagai tentara yang tak terhitung jumlahnya, menguasai hamparan tanah Langgam.
Angka-angka resmi dari Badan Pusat Statistik Pelalawan membenarkan apa yang mata lihat. Kecamatan Langgam, dengan wilayah seluas 1.482,69 kilometer persegi atau setara 148.269 hektar, ternyata hampir separuh tubuhnya diselimuti kebun sawit. Sekitar 77.720 hektar lahan di sana didedikasikan untuk sang “raja minyak” itu, menjadikan Langgam sang juara dalam hal luasan sawit di kabupaten ini.
Perjalanan dua jam dari Ibu Kota Pekanbaru menuju ke sini adalah sebuah napak tilas keseragaman, di mana hutan dan kebun karet perlahan-lahan menyerah, digantikan oleh satu jenis tanaman yang telah menjadi tuan tanah. Seandainya pencipta lagu “Naik-Naik ke Puncak Gunung” terinspirasi oleh Langgam, mungkin liriknya akan berganti menjadi, “kiri kanan kulihat banyak pohon sawit.”
Langkah Untuk Mengurangi Ketergantungan Terhadap Sawit
Di balik dominasi sawit yang hampir memakan separuh wilayah ini, tersembunyi sebuah paradoks. Bagi banyak petani kecil seperti Eko dan Muhammad Noor Kholis (33), sang Ketua Kelompok Tani Barokah, sang “raja minyak” itu tak selalu membawa kemakmuran. Ia lebih sering menjadi penjara yang nyaman.
“Kalau sawit itu dua minggu sekali (panen). Terus (kalau ngurus) sawit ga sanggup saya, perawatannya mahal ga sanggup saya,” ujar Kholis dengan blak-blakan.
Hal tersebut berbanding terbalik terhadap penanaman hortikultura, dalam hal ini Kholis dengan cabai setannya. Dirinya katakan, untuk mengurus kebun cabainya dapat dilakukan sendiri sedangkan sawit harus memperkerjakan seseorang. Apabila sempat keteteran saat panen, Kholis cukup meminta bantuan istri atau anggota keluarganya yang lain.
“Kalau cabai tinggal metik doang panennya. Kalau sawit, ekstra tenaga ya. Biayanya juga untuk pupuk, segala macamnya,” jelasnya.
Inilah inti masalahnya. Ketergantungan pada sawit menciptakan sebuah siklus yang rentan. Siklus panen yang lama, biaya perawatan yang tinggi, dan fluktuasi harga seringkali menjebak petani kecil dalam jerat utang dan ketidakpastian. Mereka terjebak dalam sistem monokultur yang membuat mereka sangat bergantung pada satu komoditas, tanpa memiliki kekuatan untuk menegosiasikan harga atau mengendalikan pasar.
Sebuah pondok kayu berbahan kayu dengan berdindingkan triplek dan beratapkan seng berdiri kokoh diantara bedengan cabai kelompok Tani Barokah itu. Disampingnya, terdapat pohon buah sawo yang dapat melindungi terik matahari. Dibawah naungan pohon sawo itu, Kholis ceritakan bagaimana melelahkannya rutinitasnya sebelumnya saat merawat cabainya.
“Semuanya serba manual,” kenang ketua kelompok tani yang memiliki anggota aktif sebanyak 40 orang itu.
Beberapa bulan lalu, rutinitas Kholis di kebun diwarnai oleh irama yang melelahkan, bolak-balik mengangkut air serta mencabut gulma. Dengan gembor plastik yang mengayun berat di tangannya, ia menjalankan rutinitas penyiraman yang menyita waktu dan tenaga. Satu jam penuh setiap hari, bahkan lebih saat kemarau harus dikorbankannya hanya untuk memastikan setiap tanaman cabainya mendapat tetesan penyambung nyawa.
Melihat hal tersebut, Venina Juliari Sinaga, Livelihood Officer dari Earthworm Foundation (EF), yang bertugas untuk mendampingi kelompok ini, memandang masalah ini dari cakupan yang lebih luas.
“Kita diskusi bersama masyarakat juga bagaimana caranya kita punya pendapatan lainnya gitu kan, supaya masyarakat juga tidak tergantung pada komunitas sawit saja,” jelasnya. Sehingga, EF untuk saat ini telah memberikan bantuan berupa mulsa serta alat penyiraman tanaman secara otomatis.
Bagi Venina, ketergantungan tinggi pada sawit seringkali berjalan beriringan dengan tekanan pada hutan dan lahan. Ketika harga sawit turun atau hasil panen menipis, godaan untuk membuka lahan baru dengan cara membakar atau merambah hutan menjadi sangat besar. Inilah sebab yang mendorong perlunya mencari solusi di luar jalur yang sudah buntu.
EF melalui Yayasan Hutan Tropis (YHT) menjadikan Kelurahan Langgam di Kabupaten Pelalawan sebagai sasaran program lanskapnya. Program ini mencakup empat kabupaten di Riau, yaitu Indragiri Hulu, Kampar, Siak, dan Pelalawan dengan fokus khusus di wilayah Langgam dan Tambak.
EF berupaya memperkuat ketahanan masyarakat melalui pendekatan lanskap yang terpadu, kolaboratif, dan berkelanjutan. Di Langgam, EF fokus pada upaya mengubah ketergantungan masyarakat terhadap kelapa sawit dengan mendorong pengelolaan hutan adat dan diversifikasi ekonomi. Program ini merupakan bagian dari strategi besar EF untuk menciptakan ketahanan masyarakat yang berkelanjutan.
Benih Harapan di Lahan Uji Coba
Solusi itu akhirnya datang bukan dalam bentuk program instan, tetapi dalam pendampingan yang sabar dari EF-YHT. Mereka hadir untuk merajut kembali serpihan mimpi para petani kecil di Desa Langgam.
Sebuah spanduk putih yang tak juga memudar meski telah berminggu-minggu diterpa terik dan hujan berdiri kokoh di antara bedengan-bedengan. Tulisan “Lokasi Test Farm Budidaya Cabai Rawit Kelompok Tani Barokah” tercetak jelas. Itu bukan sekadar penanda, melainkan sebuah deklarasi bahwa ada kehidupan lain di luar bayang-bayang sawit.
Intervensi dimulai dari hal yang paling mendasar: efisiensi. Bantuan mulsa plastik dan sistem irigasi tetes sederhana membawa angin segar.
“Terbantulah sejak ada bantuan dari EF nih,” ujar Kholis dengan nada lega. “Kalau penyiraman tinggal di colok dengan listrik aja, tidak perlu lagi nih jauh-jauh untuk mengambil air lalu menyiram,” ujarnya dengan senyuman tergurat.
Di sisi lain, mulsa menjadi tameng efektif yang menekan pertumbuhan rumput liar, musuh abadi yang selama ini menyita begitu banyak waktu dan tenaga. Waktu yang dihemat tidak lagi terbuang untuk hal-han repetitif, melainkan dialihkan untuk merawat tanaman dengan lebih intensif.
Alasan untuk memilih cabai setan bukanlah sebuah kebetulan. Ini adalah pilihan yang cerdas dan strategis berdasarkan realitas pasar lokal.
“Di Langgam inilah yang banyak peminat ya, yang banyak kan, pemasarannya mudah,” jelas Kholis. “Kita nanam ini pemasaran (banyak pembeli), serta mudah pemasarannya. Karena kalau susah, tak mungkin kita tanam (cabai setan).”
Mereka tidak menargetkan pasar ekspor atau nasional yang kompleks. Mereka fokus pada apa yang mereka kenal dan kuasai, Pasar Langgam. Strategi pemasarannya pun mengikuti zaman.
Kholis memanfaatkan grup WhatsApp UMKM Langgam sebagai media promosi. Pesanan yang datang, mulai dari seperempat kilogram hingga satu kilogram, langsung dia antarkan sendiri. Harganya sendiripun tergantung harga pasar pada saat itu. Untuk sekarang, cabai setan dihargai 40 ribu/kg bahkan sempat mencapai 80 ribu/kg.
Menariknya, solusi ini tidak dimaksudkan untuk menggusur sawit sepenuhnya. Venina dari EF menegaskan, pendekatannya adalah diversifikasi, bukan substitusi.
“Kita inginnya gimana caranya itu lahan yang kita kelola secara berdampak dengan masyarakat setempat,” ujarnya. Tujuannya adalah menciptakan mata pencaharian alternatif yang dapat mengurangi tekanan terhadap hutan sekaligus memberikan cash flow yang lebih lancar bagi keluarga petani.
Skema bantuan yang diberikan juga dirancang untuk memupuk rasa memiliki, bukan menciptakan ketergantungan baru. EF tidak memberikan bantuan seratus persen, melainkan menerapkan skema pendampingan dana di mana petani juga harus berkontribusi. Ini adalah investasi bersama untuk masa depan yang lebih berkelanjutan.
Jika Semua Tanam Sawit, Siapa Tanam Cabai?
Dampak dari solusi sederhana ini ternyata jauh lebih dalam dari yang dibayangkan. Ia tidak hanya menyentuh aspek ekonomi, tetapi juga memulihkan kembali jaringan sosial dan keyakinan diri para petani.
Bagi keluarga Kholis, dampaknya terasa sangat nyata. Amelia sang Istri Kholis, tidak hanya memberikan dukungan moral, tetapi juga terlibat langsung. Dia yang mengambil alih peran pemasaran dan pernah turun tangan membantu panen.
“Ada tambahan tabungan jadinya,” akunya dengan senyum. “Kalau untuk sehari-hari kan ada gaji bulanan, jadi semenjak ada cabai ini ada tambahan uang tabungan gitu, itu yang dirasakan.”
Kalimat sederhana Amelia itu menyimpan sebuah revolusi kecil. Uang yang mengalir setiap minggu dari kebun cabai memberikan mereka kelincahan finansial yang tidak dimiliki ketika bergantung pada siklus panen sawit yang lama. Uang tunai yang cepat itu memutus siklus “tunggu dan harap” yang melelahkan.
Mimpi Kholis bahkan menjadi lebih berani. Di belakang rumah mertuanya, tegakan sawit berumur 30 tahun sudah tidak terlalu produktif lagi. Rencananya, lahan seperempat hektar dengan sekitar 20 pokok sawit itu akan ditumbang dan dialihfungsikan untuk kebun cabai. Sebuah keputusan yang mungkin dianggap nekat oleh banyak orang di Riau, di mana sawit adalah “raja” yang tak tergoyahkan. Namun, bagi Kholis, ini adalah logika yang tak terbantahkan, “Kalau cabainya enak perminggu kita ngalir duitnya,” ucapnya dengan yakin.
Bagi Eko Resmono, dampak terbesarnya justru pada rasa kemandirian dan kecukupan. Dengan tujuh orang anak yang berhasil dia besarkan dan sekolahkan. Salah satunya bahkan menjadi pramugari. Dari bertani hortikultura di lahan kecil, Eko memiliki filosofi yang dalam.
“Nyatanya anak saya makan semua ya, hidup semua. Dari yang sedikit itu aja cukup,” katanya dengan penuh syukur.
Rasa kecukupan itu selalu Eko tanamkan. Dirinya tidak pernah timbul rasa iri melihat teman atau kenalannya yang memiliki lahan sawit yang luas. Bahkan, dirinya lebih banyak melihat mereka merasa tidak berkecukupan dengan kepunyaannya.
“Percuma, kalau kamu punya lebar-lebar (lahan sawitnya) lah, saya sedikit aja bisa cukup, kan gitu.”
Baginya, nilai menjadi petani kecil justru terletak pada kemandirian. Dia memandang dengan bijak pada mereka yang memiliki kebun sawit luas tetapi hidupnya justru tidak tenang. Dalam ekosistem kehidupan, setiap peran saling melengkapi.
“Jika semua orang menanam sawit, lalu siapa yang akan menanam cabai dan sayur untuk mereka makan? Ya engga mungkin kita hanya makan minyak goreng aja. Orang punya sawit itu butuh cabai kekita, butuh sayur kekita,” paparnya.
Namun, mungkin dampak yang paling halus namun penting adalah terciptanya kembali ruang berbagi pengetahuan melalui Kelompok Tani Barokah. Eko dengan jelas merasakan perbedaannya.
“Istilahnya silaturahmi antar petani kita saling bantu ya ini, sukar pengalaman masalah-masalah bertani,” ujarnya. “Kalau dulu kan sendiri, ini kenapa ini kurang apa yaudah cari akal sendiri. Kalau di kelompok tani kan kita banyak sharing sama kawan-kawan.”
Kelompok ini menjadi semacam sekolah lapangan tempat mereka saling mengajari, berbagi keluhan tentang serangan hama, dan bersama-sama mencari solusi. Ikatan sosial yang selama ini mungkin terpinggirkan oleh individualitas dalam bertani sawit, kembali terajut.
Harapnya, Jangan Setengah-setengah
Jalan perubahan tak pernah lepas dari duri. Eko dengan jujur mengakui bahwa kehidupan petani adalah sebuah taruhan. Kegagalan panen, baik karena serangan hama yang tak terduga maupun anjloknya harga, adalah mimpi buruk yang selalu mengintai. Itulah duka yang harus mereka terima sebagai konsekuensi dari suka di saat panen berlimpah dan harga bersahabat.
Venina dari EF juga mengakui bahwa perjalanan pendampingan mereka tidak selalu mulus. Pada awalnya, mereka sempat ditolak. Masyarakat mungkin sudah lelah dengan janji-janji manis dari berbagai organisasi yang datang dan pergi, meninggalkan proyek yang mangkrak.
Kunci keberhasilan pendekatan mereka adalah konsistensi dan komitmen untuk benar-benar memberikan solusi, bukan sekadar proyek semata. Perubahan pola pikir masyarakat, yang mulai terbuka terhadap alternatif di luar sawit, sudah menjadi sebuah kemenangan awal yang signifikan.
Harapan Eko Resmono mewakili suara hati para petani yang telah merasakan dampak pendampingan ini. Mereka takut ditinggalkan di tengah jalan.
“Harapannya, jangan setengah-setengah kalau mau dampingi, dampingi sampai selesai. Jadi kalau memang mau dampingi, ayo dampingi betul, tonton betul (kinerja kami), sampai sukses betu sehingga kami petani cabai yang didayakan EF ini bisa berbangga mengenai proses hasilnya,” harap Eko.
Permintaan itu sederhana namun mendalam, mereka menginginkan sebuah pendampingan yang tuntas, yang benar-benar mengantar mereka hingga ke garis finish kemandirian, bukan sekadar menjadi “proyek pencitraan” yang hilang begitu dana habis.
Rencana mereka pun sudah jelas dan penuh optimisme. Lahan uji coba seluas setengah hektar itu hanyalah permulaan. Setelah panen cabai, mereka berencana melakukan rotasi tanaman dengan jagung manis untuk memutus siklus hama dan menjaga kesehatan tanah. Yang menarik, lahan yang mereka gunakan adalah milik Dinas Pertanian (BPP), menunjukkan adanya ruang kolaborasi yang bisa dimanfaatkan oleh petani yang tidak memiliki lahan sendiri.
Di tengah gemuruh pembangunan Riau yang masih bergantung pada sawit dan pulp, suara-suara dari Desa Langgam ini mungkin masih kecil. Namun, di balik kesederhanaan mereka, tersimpan sebuah keteguhan untuk mencari jalan yang berbeda. Mereka tidak sekadar menanam cabai di bedengan-bedengan yang dibalut mulsa. Mereka sedang menanam harapan, sebuah visi tentang kehidupan yang lebih seimbang, mandiri, dan berdaulat di atas tanah ulayat mereka sendiri.
Setiap kuntum bunga cabai yang merekah adalah janji akan masa depan di mana ekonomi dan ekologi tidak lagi berhadap-hadapan, tetapi berjalan beriringan. Di bawah bayang-bayang sang raja minyak, para petani kecil di Langgam ini dengan gigih merajut kemandiriannya, membuktikan bahwa kadang-kadang, pilihan untuk tidak mengikuti arus justru adalah bentuk keberanian yang paling perkasa.












