Evakuasi Dramatis Santri Ponpes Sidoarjo Ada yang Harus Diamputasi di Bawah Reruntuhan

0
14
Ayo share artikel ini

SPIPUSAT.COM SIDOARJO – Tragedi ambruknya musala Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, menyisakan cerita pilu sekaligus perjuangan dramatis. Tim SAR masih berjibaku menyelamatkan puluhan santri yang terjebak di bawah reruntuhan beton. Hingga Selasa malam (30/9/2025), tujuh korban terdeteksi masih hidup, meski terhimpit bangunan.

Kepala Kantor SAR Surabaya, Nanang Sigit, mengatakan tanda-tanda kehidupan terlihat dari respons para korban ketika petugas menyalakan lampu dan kamera pencari. “Ada yang menggerakkan kaki. Itu artinya masih ada harapan,” ujarnya.

Namun, proses evakuasi tak selalu mudah. Seorang santri berinisial NA bahkan harus menjalani amputasi lengan di lokasi kejadian agar bisa dikeluarkan dari reruntuhan. Direktur Utama RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, Atok Irawan, menjelaskan operasi darurat dilakukan setelah keluarga sempat menolak. “Akhirnya diputuskan tindakan medis di tempat agar nyawanya bisa diselamatkan,” jelas Atok.

Hingga kini, total 102 santri berhasil dievakuasi. Tiga di antaranya meninggal dunia, sementara 38 lainnya masih terperangkap.

 

 

Di sisi lain, Polda Jawa Timur bersama Polresta Sidoarjo menurunkan tim psikologi untuk memberikan trauma healing bagi para korban dan keluarga. “Kami ingin pemulihan mental dan emosional tetap terjaga meski mereka menghadapi cobaan berat,” kata AKBP Mujib Ridwan dari SDM Polda Jatim.

Tragedi ini memantik reaksi politik. Ketua DPR RI, Puan Maharani, menegaskan negara tidak boleh lalai dalam memastikan keamanan fasilitas pendidikan dan keagamaan. “Peristiwa ini pukulan keras. Negara harus hadir menjamin bangunan untuk santri aman dan sesuai standar konstruksi,” ujarnya.

Menteri Agama, Nasaruddin Umar, yang meninjau langsung lokasi, menyebut musibah ini jadi peringatan penting. “Ke depan, pembangunan pondok pesantren harus betul-betul memenuhi standar teknis. Jangan sampai ada korban lagi,” tegasnya.

Di tengah pilu kehilangan dan perjuangan para santri bertahan hidup, tragedi ini mengingatkan bahwa keselamatan anak-anak di lembaga pendidikan harus menjadi prioritas utama.


Ayo share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here