Harga Minyak Dunia Jatuh Setelah Trump Sebut Perang Iran Hampir Usai

0
8
Ayo share artikel ini

SPIPUSAT.COM JAKARTA – Harga minyak dunia sempat anjlok tajam setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan perang dengan Iran hampir selesai. Namun, analis menilai penurunan harga tersebut belum mencerminkan kondisi pasokan energi global yang masih terganggu.

Dalam wawancara dengan CBS News pada Senin (9/3/2026), Trump mengatakan konflik tersebut “hampir sepenuhnya selesai” dan perkembangan operasi militer berjalan jauh lebih cepat dari perkiraan awal.

Pernyataan itu langsung memicu reaksi pasar. Harga minyak acuan global Brent dan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang sebelumnya sempat melonjak hingga sekitar dollar AS 119 per barel, berbalik turun tajam.

Pada Selasa (10/3/2026), harga minyak Brent diperdagangkan di sekitar dollar AS 81,40 per barel, sedangkan WTI berada di kisaran dollar AS 79,90 per barel. Kedua harga tersebut turun lebih dari 30 persen dibandingkan puncaknya.

Meski begitu, pelaku pasar menilai harga minyak masih sangat dipengaruhi situasi geopolitik, terutama karena jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz belum sepenuhnya kembali normal.

Selat ini menjadi jalur sekitar 20 persen pengiriman minyak dunia melalui laut. Selama jalur tersebut masih terganggu, pasar energi global diperkirakan tetap menghadapi tekanan pasokan. Dikutip dari Yahoo Finance, analis Capital, Kyle Rodda, mengatakan pasar saat ini menunggu bukti nyata bahwa konflik benar-benar mereda.

Menurut dia, indikator penting yang diperhatikan pelaku pasar adalah apakah pengiriman minyak kembali mengalir melalui Selat Hormuz, produksi negara-negara Teluk kembali normal, serta infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah aman dari serangan lanjutan. Analis energi dari Marex CSC, Sasha Foss, mengatakan pernyataan Trump sejauh ini lebih banyak memberi waktu bagi pasar untuk menilai situasi yang sebenarnya.

Selain itu, pemerintah AS juga diperkirakan sensitif terhadap kenaikan harga bahan bakar menjelang pemilihan paruh waktu.

Data dari American Automobile Association menunjukkan harga rata-rata bensin di AS mencapai sekitar dollar AS 3,539 per galon pada Selasa (10/3/2026), naik dari sekitar dollar AS 2,921 per galon sebulan sebelumnya.

Di sisi lain, sistem pasokan minyak global tidak dapat kembali normal dalam waktu singkat meskipun ketegangan mereda.

Para analis menilai kerusakan infrastruktur energi di Timur Tengah selama 10 hari pertama konflik membuat proses pemulihan membutuhkan waktu. Pengiriman minyak melalui Selat Hormuz membutuhkan jaminan keamanan bagi kapal tanker, perlindungan asuransi, serta pelabuhan yang beroperasi normal di kawasan Teluk.

Sementara itu, penghentian produksi sementara di sejumlah ladang minyak dan operasi kilang juga membutuhkan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu untuk kembali berjalan.

Pada Selasa pagi, Uni Emirat Arab mengumumkan kilang Ruwais yang mampu mengolah sekitar 900.000 barel minyak per hari dihentikan sementara sebagai langkah pencegahan setelah adanya serangan udara.

Sebelumnya, Bahrain juga menutup kilang Bapco Energies yang merupakan satu-satunya fasilitas pengolahan minyak di negara tersebut.

Sementara itu, perusahaan energi milik negara QatarEnergy menyatakan force majeure atas pengiriman gas alam cair dari terminal ekspor Ras Laffan. Gangguan produksi juga terjadi di sejumlah negara produsen utama seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab.

Total produksi minyak yang terhenti sementara diperkirakan mencapai sekitar 6,7 juta barel per hari, atau setara sekitar 6 persen dari pasokan minyak global.

Media pemerintah Iran bahkan melaporkan adanya kapal tanker minyak yang mengalami ledakan di dekat Abu Dhabi, yang semakin meningkatkan kekhawatiran perusahaan pelayaran untuk kembali melintasi Selat Hormuz.

Chief Executive Officer Saudi Aramco, Amin Nasser, memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan dapat membawa dampak “katastrofik” bagi pasar minyak dunia.

Di tengah situasi tersebut, pemerintah AS juga memberikan sinyal yang beragam. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan serangan militer pada Selasa akan menjadi yang paling intens sejauh ini.

Sementara itu, para analis menilai perkembangan konflik tidak sepenuhnya berada di tangan Washington. Iran dinilai masih memegang kendali penting terkait keputusan membuka jalur aman di Selat Hormuz atau melanjutkan serangan.


Ayo share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here