Kedaulatan Ekosistem Papua Terancam, Indonesia Diminta Segera Tetapkan Raja Ampat Sebagai PSSA

0
7
Ayo share artikel ini

SPIPUSAT.COM JAKARTA – Status Raja Ampat sebagai jantung segitiga terumbu karang dunia kini berada dalam bayang-bayang kehancuran. Pengamat Maritim Indonesia dari IKAL Strategic Center (ISC), Marcellus Hakeng Jayawibawa, memperingatkan bahwa peningkatan lalu lintas kapal pesiar tanpa pengawasan ketat dapat memicu tragedi ekologis serupa insiden MV Caledonian Sky yang menghancurkan belasan ribu meter persegi karang pada 2017 silam.

Hakeng menilai kedaulatan maritim Indonesia sedang dipertaruhkan. Menurutnya, perlindungan terhadap 75 persen biodiversitas karang global di Papua bukan sekadar isu konservasi, melainkan harga diri bangsa di mata internasional.

“Kedaulatan maritim bukan hanya soal keamanan dari serangan militer, tetapi juga perlindungan terhadap integritas ekosistem yang menjadi warisan dunia. Kita tidak boleh membiarkan Raja Ampat menjadi saksi bisu kegagalan sistem navigasi kita kembali,” tegas Hakeng, Minggu (1/2/2026).

Dalam analisanya, terdapat tiga lubang besar yang mengancam perairan Papua. Pertama, ketidakakuratan peta navigasi elektronik global yang sering menyesatkan nakhoda asing. Kedua, minimnya infrastruktur Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP) di jalur kritis seperti Selat Dampier. Ketiga, belum adanya status Particularly Sensitive Sea Area (PSSA) dari organisasi maritim internasional (IMO).

Tanpa status PSSA, Indonesia dinilai tidak memiliki otoritas kuat untuk membatasi rute kapal asing di area sensitif. Guna mencegah kerusakan permanen, Hakeng menyodorkan lima langkah strategis: pemberlakuan pemanduan wajib (compulsory pilotage), optimalisasi sistem navigasi VTS, layanan pengawalan kapal (escort), modernisasi SBNP digital, serta sinkronisasi hukum standar internasional.

Ia menekankan bahwa pertumbuhan volume kapal pesiar yang diprediksi naik hingga 20 persen pasca-pandemi harus diimbangi dengan ketegasan aturan di lapangan. “Kegagalan mengelola lalu lintas maritim di Raja Ampat adalah ancaman langsung terhadap martabat maritim Indonesia. Kita butuh aksi nyata, bukan sekadar narasi konservasi,” pungkasnya.


Ayo share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here