Pagar Pembatas Di Depan Stasiun Cikini, Jakarta Pusat, Mulai Ditinggikan Untuk Mencegah Penumpang KRL Menyeberang Sembarangan

0
18
Ayo share artikel ini

SPIPUSAT.COM JAKARTA, Pagar pembatas di depan Stasiun Cikini, Jakarta Pusat, mulai ditinggikan untuk mencegah penumpang KRL menyeberang sembarangan. Meski begitu, masih banyak penumpang yang nekat melompati pagar untuk menuju dan keluar stasiun.  Pantauan Kompas.com pada Senin (11/8/2025) menunjukkan, baru sebagian pagar yang telah ditinggikan mencapai sekitar dua meter. Sementara, pagar lama setinggi satu meter masih terpasang di sisi utara dan selatan stasiun. Kondisi ini membuka celah bagi warga untuk tetap melakukan pelanggaran meski sudah ada spanduk larangan. Penumpang KRL mengaku ogah memutar lewat jalur resmi karena dianggap terlalu jauh dan tidak nyaman. Hal ini juga disebut demi menghemat waktu dan tenaga.

Terlalu jauh Beberapa warga dan pengguna KRL menyebut, akses resmi dari dan menuju Stasiun Cikini terlalu memutar dan tidak praktis. Joko (46), warga sekitar, mengatakan, banyak orang malas melewati jalur resmi karena harus berjalan cukup jauh. “Kalau lewat jalan resmi kan mesti jauh jalannya, nah orang malas. Jadi ya tetap saja banyak yang nekat loncat,” ujarnya. Sarman (52), warga lainnya, menilai, jalur resmi yang melewati bagian belakang stasiun terlalu sempit dan tidak layak, terutama saat kondisi ramai. “Jalannya kecil, kalau berpapasan mesti gantian. Apalagi kalau hujan, becek banget. Makanya banyak yang pilih loncat biar cepat,” tuturnya.

Hemat waktu Beberapa penumpang KRL mengaku melompati pagar untuk memangkas waktu. Rahmat (27), penumpang yang hendak menuju Depok nekat melompati pagar karena takut ketinggalan kereta. “Kereta sudah mau jalan, kalau muter lewat ujung jalan bisa ketinggalan. Jadi saya loncat saja, biar cepat,” ujarnya sambil tersenyum. Rahmat sadar tindakannya melanggar aturan. Namun, ia menyebut, pagar yang belum seluruhnya ditinggikan membuat tindakan tersebut tetap memungkinkan.

Minim petugas Hingga Senin sore, baru sekitar 10 meter pagar di sisi tengah stasiun yang ditinggikan. Sisanya masih berupa pagar lama yang mudah dipanjat.

Beberapa bagian pagar yang ditinggikan bahkan belum dilas secara permanen.

Sri Lestari (38), warga setempat, menilai, upaya peninggian pagar tidak akan efektif tanpa kehadiran petugas yang mengawasi langsung. “Kalau cuma pagar tinggi tapi enggak ada yang ngawasin, ya percuma. Tetap aja ada yang manjat,” katanya. Ia juga menyoroti risiko keselamatan, terutama bagi anak-anak dan lansia, jika masih nekat melompati pagar.

Langgar aturan Manager Humas KAI Daop 1 Jakarta, Ixfan Hendriwintoko, menjelaskan bahwa peninggian pagar dilakukan untuk meningkatkan keselamatan penumpang dan menjaga kelancaran operasional stasiun.

Peninggian pagar juga dimaksudkan untuk mencegah pedagang kaki lima dan kendaraan bermotor mangkal di trotoar.

Ia mengimbau seluruh pengguna KRL untuk menggunakan akses resmi yang sudah tersedia melalui pintu utara dan selatan yang terhubung ke Halte Transjakarta. “Aksi melompati pagar bukan hanya melanggar aturan, namun juga membahayakan keselamatan penumpang serta mengganggu operasional di area stasiun,” ujar Ixfan, Senin (11/8/2025). Stasiun Cikini melayani hingga 30.000 penumpang per hari pada hari kerja, sehingga penataan dan pengamanan akses menjadi sangat krusial demi menghindari insiden yang tidak diinginkan.


Ayo share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here