SPIPUSAT.COM PEKANBARU – Isu bahan bakar minyak (BBM) yang disebut-sebut dicampur dengan etanol oleh Pertamina belakangan ini menuai kehebohan di tengah masyarakat. Menanggapi hal tersebut, Pakar Perminyakan Riau yang juga Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Islam Riau (UIR), Prof Dr Eng Ir Muslim, ST, MT, IPU, memberikan pandangan ilmiahnya.
Ia menegaskan bahwa pencampuran etanol ke dalam bahan bakar sebenarnya bukan hal baru dan justru memberikan banyak manfaat bagi mesin serta lingkungan.
“Etanol itu justru meningkatkan nilai oktan bahan bakar, membuat pembakaran lebih sempurna, dan kinerja mesin menjadi lebih baik. Selain itu, emisi gas buang kendaraan juga bisa berkurang,” terang Prof Muslim
Menurutnya, penggunaan etanol sebagai campuran BBM telah lama diterapkan di berbagai negara maju tanpa menimbulkan masalah berarti. Ia menjelaskan bahwa di sejumlah negara, kadar pencampuran etanol bisa mencapai 10 persen atau lebih, dan masyarakatnya dapat menerimanya dengan baik.
“Jadi bukan pencampurannya yang salah, tapi bagaimana proses dan kualitasnya dijaga. Negara seperti Amerika Serikat dan Brasil sudah lama menggunakan etanol dalam BBM mereka,” ujarnya menegaskan.
Namun, Prof Muslim menyoroti langkah sejumlah pengusaha swasta seperti Shell dan Vivo yang menolak pasokan BBM dari Pertamina karena dugaan tidak sesuai standar. Ia menyebut hal tersebut bisa menjadi indikasi adanya standar kualitas yang belum terpenuhi.
“Perusahaan swasta internasional punya standar tinggi untuk kualitas BBM mereka. Kalau mereka menolak, berarti ada sesuatu yang harus diperbaiki dalam pengolahan atau distribusi Pertamina,” jelasnya.












