Pengusaha Parsel di Surabaya Mengeluh Sepi: Dulu Terjual 1.000 Per Hari, Kini Tak Sampai 100

0
8
Ayo share artikel ini

SPIPUSAT.COM SURABAYA, – Toko parsel di sekitaran Jalan Ondomohen, Surabaya, Jawa Timur, yang biasanya ramai menjelang Lebaran, kini tampak sepi.

Kompleks pertokoan yang biasanya penuh sesak dengan pengunjung yang mencari parsel, kini tidak terlihat lagi.

Suasana kemeriahan itu menyisakan sunyi dari daun berguguran dan beberapa kendaraan yang melintas.

Puluhan toko parsel yang dulunya tampak berjejer rapi pun, sekarang hanya tersisa tak lebih dari 10. Banyak yang tutup atau terpaksa mengganti barang dagangan.

Kebanyakan toko-toko parsel tersebut bukanlah toko musiman, melainkan memproduksi parsel setiap hari. Tapi, penjualan paling ramai biasanya terjadi saat jelang Lebaran.

Salah satu toko yang masih bertahan selama lebih dari 20 tahun, Elson Parcel. Pemilik toko, Fitri Nurul (50) mengungkapkan penjualan parsel semakin tahun selalu menurun secara signifikan.

“Sekarang sepi, mungkin karena juga semakin banyak kebutuhan ya, sepi enggak kayak dulu, dulu itu berjubel pembeli di sini,” kenang Nurul saat ditemui.

“Ini sudah mendekati Lebaran tapi masih banyak yang belum laku, seminggu ini masih sepi,” imbuhnya sambil menatap puluhan stok parsel yang masih tertata rapi bak tak tersentuh pembeli.

Dulu, menjelang Lebaran, Nurul bisa menjualkan sekitar 1.000 parsel setiap harinya. Sedangkan sekarang, tidak smapai 100 parsel yang terjual.

“Dulu itu bisa sampai 1.000 bahkan lebih tiap hari, sekarang 100 enggak sampai, paling 30 atau 50 paling mentok,” ungkapnya.

Apabila ada stok parsel yang sudah 3 bulan tidak kunjung laku, maka terpaksa akan dikembalikan.

“Ya mau gimana lagi, karena saya kan produksi parsel setiap hari. Nanti kalau mendekati expired kita bongkar, di-return,” terangnya.

Ia menuturkan, penurunan tersebut tejadi sejak selepas pandemi Covid-19 dan tidak kunjung membaik sampai saat ini.

Berbagai cara juga sudah dicobanya, termasuk berjualan melalui online shop. Tapi, hasil yang didapatkan tidak begitu menguntungkan.

“Kita online coba juga, tapi ya sama aja (hasilnya). Malahan kita harus banting harga banget kalau online, itu yang susah,” tuturnya.

Harga parsel yang dijual cukup beragam tergantung dari bentuk dan ukuran yang diminta, mulai dari Rp 100.000 sampai Rp 4 juta.

“Bahkan, banyak parsel di sini yang aslinya harga Rp 200.000 harus saya turunin jadi Rp 100.000,” ujarnya.

Kala itu, Nurul mampu memproduksei sekurar 6.000 parsel setiap harinya, namun sekarang ia batasi hanya 3.000 parsel per hari.

“Pelanggannya dari Surabaya sekitarnya, paling jauh ya Papua sih. Cuma kalau sekarang saya batasi cuma 3.000 saja karena sepi banget,” pungkasnya.

Cerita Nurul hanyalah satu dari sekian banyak pengusaha parsel yang tengah tertatih-tatih.

Meski berbagai upaya telah dilakukan untuk mempertahankan usaha, menurunnya minat pembeli membuat para pedagang parsel di Jalan Ondomohen harus berjuang lebih keras agar tetap bertahan.


Ayo share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here