Bencana Hidrometeorologi Sumbar Dinilai Bisa Picu Inflasi Riau, Ekonom Desak Respons Cepat Pemerintah

0
11
Ayo share artikel ini

SPIPUSAT.COM PEKANBARU – Ekonom senior Universitas Riau, Dahlan Tampubolon, mengingatkan pemerintah provinsi agar tidak meremehkan potensi dampak bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatera Barat terhadap stabilitas harga pangan di Riau. Ia menilai gangguan konektivitas akibat banjir bandang, longsor, atau cuaca ekstrem di provinsi tetangga itu dapat langsung memutus alur distribusi komoditas utama yang selama ini menjadi tumpuan masyarakat Riau.

“Sumbar itu pemasok utama kita. Cabai, bawang merah, daging, dan telur ayam banyak datang dari sana. Kalau jalan atau jembatan di sana putus, logistik ke Riau langsung tersendat total,” kata Dahlan kepada GoRiau.com, Selasa (25/11/2025) malam. Ia menyebut kondisi tersebut menjadi pemicu awal terganggunya pasokan ke pasar-pasar di Pekanbaru, Dumai, dan daerah lain di Riau.

Menurut Dahlan, situasi ini akan menimbulkan inflasi dorongan biaya atau cost-push inflation, yang diperparah dengan guncangan penawaran atau supply shock. Harga komoditas pangan berpotensi melonjak dalam waktu singkat karena permintaan tetap tinggi, sementara pasokan menurun drastis. “Pedagang pasti bilang, ‘Barang langka. Biaya angkutnya aja udah mahal kali karena harus muter jauh.’ Cabai yang biasa Rp 40 ribu bisa langsung jadi Rp 70 ribu,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa cabai dan bawang merah merupakan komoditas dengan bobot besar dalam perhitungan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK). Jika kenaikan harga terjadi dalam skala 50–100 persen akibat terputusnya jalur distribusi dari Sumbar, inflasi Riau bulan berikutnya hampir pasti melonjak tajam. “Ini bahaya karena melemahkan daya beli masyarakat yang baru mau pulih,” katanya.

Dahlan menilai pemerintah provinsi harus segera mengambil langkah intervensi cepat dengan mencari jalur pasokan alternatif, seperti dari Sumatera Utara atau Jawa, serta menggelar operasi pasar murah untuk komoditas utama. Pengawasan distribusi juga perlu diperketat untuk mencegah spekulasi dan penimbunan. “Kalau tak gerak cepat, masyarakat Riau yang paling dirugikan karena harus beli kebutuhan dengan harga selangit,” ucapnya.

Ia menekankan bahwa strategi stabilisasi harga tidak cukup hanya mengandalkan koordinasi rutin antarinstansi. Peran BUMD pangan, PT Riau Pangan Bertuah, menurut dia, menjadi sangat krusial sebagai penyangga harga dan pasokan. BUMD tersebut seharusnya memiliki cadangan stok komoditas rawan inflasi, seperti cabai, bawang, daging, dan telur, untuk mengantisipasi gangguan dari luar daerah. “BUMD ini harus cepat mendatangkan barang dari sumber alternatif dan menjualnya dengan harga wajar. Dengan begitu, mereka bisa mematahkan aksi spekulan,” ujar Dahlan.

Ia menambahkan, tanpa kemampuan BUMD menjaga stok dan merespons cepat situasi darurat, Riau akan terus bergantung pada pasokan luar daerah dan rentan terhadap gejolak harga setiap kali bencana terjadi di provinsi tetangga.


Ayo share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here