SPIPUSAT.COM – PT Bank Tabungan Negara (BTN) menilai permintaan rumah subsidi dan pembelian rumah pertama tetap terjaga. Kondisi ini terjadi meski tekanan daya beli muncul di tengah perlambatan ekonomi. Direktur Utama BTN Nixon Napitupulu menyebut rumah pertama merupakan kebutuhan dasar. Kebutuhan ini tetap diupayakan masyarakat untuk dipenuhi.
“Rumah pertama (subsidi) itu kan kebutuhan dasar, sama kayak sandang, pangan, papan. Orang nikah pasti pengin beli rumah. Apapun yang terjadi dia akan kerja dan nabrak segala cara untuk memiliki rumah,” kata Nixon di Bandung, Kamis (9/4/2026).
Permintaan rumah pertama dinilai memiliki karakter berbeda dibanding konsumsi lain. Faktor sosial ikut memengaruhi keputusan pembelian.
Pembiayaan rumah tidak hanya bergantung pada pendapatan individu. Dukungan keluarga sering menjadi sumber tambahan, terutama untuk uang muka. Kronologi Tindakan Asusila Penyebab Ketua KPU Hasyim Asy’ari Diberhentikan
“Pinjam dari keluarganya, dari abangnya, bapaknya buat DP, itu biasa terjadi di Indonesia,” ujarnya. Kondisi ini membuat permintaan rumah pertama relatif lebih tahan terhadap siklus ekonomi jangka pendek. Berbeda dengan pembelian rumah kedua atau properti investasi yang lebih sensitif terhadap kondisi ekonomi. “Kalau second home (rumah untuk investasi), mungkin itu yang turun terpengaruh cyclical economy,” kata Nixon.
Tekanan tetap terlihat pada kinerja industri. Data Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit melambat dari 10,24 persen menjadi 5,26 persen per Februari. Rasio kredit bermasalah naik dari 2,88 persen menjadi 3,19 persen secara tahunan. BTN menilai perlambatan ini tidak sepenuhnya mencerminkan penurunan daya beli. Faktor musiman turut memengaruhi realisasi kredit, terutama pada segmen rumah subsidi.
“Tren perumahan itu selalu kalau musim hujan lebih lambat. Musim kemarau lebih cepat,” ujar Nixon.












