Kredit Perbankan Tumbuh 9,53 Persen, Sektor Keuangan Indonesia Tetap Resilien

0
7
Ayo share artikel ini

SPIPUSAT.COM JAKARTA – Industri jasa keuangan Indonesia berhasil mencetak angka pembiayaan pembangunan sebesar Rp9.540 triliun sepanjang 2025. Perbankan menjadi kontributor paling dominan dengan pertumbuhan kredit mencapai 9,53 persen, yang menunjukkan kuatnya daya serap pasar terhadap modalitas pembangunan.

Capaian ini dinilai sebagai sinyal positif bagi stabilitas ekonomi nasional di tengah meningkatnya tensi geopolitik dunia. Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi menyebut solidnya kinerja sektor keuangan menjadi fondasi kuat untuk menjaga tren pertumbuhan ekonomi ke depan.

“Fundamental perekonomian dan kinerja sektor jasa keuangan sangat solid menjadi modalitas yang sangat penting untuk kelanjutan kita ke depan,” ungkap Friderica dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan, Kamis (5/2/2026).

Meskipun kondisi global penuh tantangan, ekonomi Indonesia berhasil tumbuh 5,11 persen pada 2025. Untuk tahun 2026, pemerintah memproyeksikan angka tersebut meningkat ke level 5,4 persen. Guna mendukung target tersebut, OJK berencana memperketat ketahanan industri melalui pemenuhan modal minimum dan penguatan tata kelola manajemen risiko.

“Sektor jasa keuangan juga diperkuat melalui penyempurnaan tata kelola dan manajemen risiko termasuk pengelola risiko terhadap ancaman cyber yang semakin kompleks,” urainya.

Selain memperkuat perbankan konvensional, OJK juga fokus memacu industri keuangan syariah. Bekerja sama dengan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia, otoritas mendorong langkah spin off bagi unit usaha syariah yang telah memenuhi kriteria agar struktur industri lebih mandiri dan kuat.

Dalam hal pengawasan, OJK mulai mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk memantau aliran modal global secara lebih akurat. Langkah ini diharapkan mampu mengantisipasi fragmentasi ekonomi yang dipicu oleh pergeseran kualitas perdagangan dunia.

“Kontribusi pembiayaan mencapai Rp9.540 triliun, indikator likuiditas profil risiko dan solvabilitas industri jasa keuangan terpantau solid,” tutupnya.


Ayo share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here