Riau Masuk Tahap I Pengembangan Ekosistem Industri Ayam Ras untuk Dukung Program MBG

0
6
Ayo share artikel ini

SPIPUSAT.COM PEKANBARU – Pemerintah Provinsi Riau melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan menerima hasil survei tim Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian terkait rencana pembangunan ekosistem industri ayam ras dalam rangka mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dari hasil survei, dua lokasi dinyatakan memenuhi syarat yakni Kota Pekanbaru dan Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu). Sementara Kabupaten Kampar tidak masuk penetapan karena belum memenuhi persyaratan teknis.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Riau, Mimi Yuliani Nazir, mengatakan lahan Pemerintah Kota Pekanbaru dan lahan milik PTPN IV di Inhu menjadi kandidat utama pembangunan. Namun ia menegaskan pembangunan belum dapat dimulai karena masih menunggu keputusan final dari pemerintah pusat. “Ada dua lahan yang sementara memenuhi syarat, yakni Pekanbaru dan Inhu. Ini masih hasil survei dan kita menunggu kepastiannya,” ujar Mimi di Pekanbaru, Senin (1/12/2025).

Riau termasuk dalam daerah Tahap I pengembangan ekosistem industri ayam ras secara nasional. Pemerintah juga menyiapkan dukungan pembiayaan bagi peternak ayam broiler maupun layer melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga 3 persen, dengan total alokasi nasional sebesar Rp50 triliun. Di Riau, pembangunan ekosistem akan mencakup budidaya parent stock untuk ayam layer dan broiler, pembesaran pullet, pabrik pakan, rumah potong unggas dan cold storage, pabrik pengolahan daging ayam, serta pabrik pengolahan telur. Anggaran yang disiapkan untuk seluruh unit usaha tersebut mencapai Rp1,304 triliun.

Mimi menegaskan program ini tidak akan mematikan usaha peternakan yang telah ada. Pemerintah memastikan pelaku usaha lama tetap terlibat dan diperkuat sehingga ekosistem baru tidak dimulai dari awal. Selain itu, BUMN seperti PTPN IV dan PT Sang Hyang Seri direncanakan terlibat dalam penyediaan pakan dan pembiayaan, serta akan melibatkan BUMD di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota.

“Nanti sumber bahan pakan dan pembiayaan akan dibahas secara parallel, dengan melibatkan BUMN yang akan mendukung program ini adalah PTPN IV dan PT Sang Hyang Sri serta akan melibatkan BUMD, yang ada di Provinsi Riau baik BUMD Provinsi maupun BUMD kabupaten dan kota,” jelas Mimi.

Secara nasional, pemerintah menargetkan pembangunan peternakan ayam pedaging dan petelur terintegrasi dengan total investasi sekitar Rp20 triliun untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis. Langkah ini merupakan bagian dari strategi hilirisasi pangan guna menjaga pasokan ayam dan telur dalam negeri. Badan Pangan Nasional memperkirakan tambahan kebutuhan akibat program MBG mencapai 700 ribu ton telur dan 1,1 juta ton daging ayam per tahun.

Sebelumnya, pemerintah pusat sempat merencanakan pembangunan tiga pabrik pakan ternak di Kabupaten Kampar. Namun, hasil survei kelayakan menunjukkan lokasi tersebut tidak memenuhi syarat teknis sehingga penetapan dialihkan ke dua titik di Kabupaten Inhu dan satu titik di Kota Pekanbaru. Proyek strategis nasional tersebut ditargetkan mampu menekan harga pakan ternak, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan ekonomi petani melalui kebutuhan bahan baku pakan seperti jagung dan bungkil sawit.

Meski lokasi telah ditetapkan, proses finalisasi masih menunggu keputusan Kementerian Pertanian. Pembangunan ditargetkan dapat dimulai pada 2026 sebagai bagian dari program pengembangan kawasan peternakan terintegrasi di Sumatera.


Ayo share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here