Tragedi Buku dan Pena di NTT, Potret Kelam Terabaikannya Mental Anak di Pelosok

0
5
Ayo share artikel ini

SPIPUSAT.COM JAKARTA – Kematian tragis seorang anak berinisial YBR (10) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi tamparan keras bagi sistem perlindungan anak di daerah terpencil. Bocah malang tersebut diduga nekat mengakhiri hidup hanya karena tekanan mental akibat tidak mampu membeli buku dan pena untuk sekolah.

Peristiwa pilu ini menyoroti betapa kesehatan mental anak-anak di pedesaan sering kali luput dari radar pengawasan pemerintah maupun masyarakat sekitar. Guru Besar Sosiologi Universitas Airlangga, Bagong Suyanto, menilai kasus ini adalah peringatan darurat akan pentingnya pemantauan kondisi psikologis anak di lingkungan pelosok.

“Anak-anak yang tinggal di daerah terpencil sering kali kurang mendapatkan perhatian penuh terhadap aspek psikologis mereka. Kurangnya akses terhadap layanan psikologis membuat anak-anak merasa terisolasi dan tidak memiliki dukungan yang cukup,” ujar Bagong, Jumat (6/2/2026).

YBR selama ini dikenal sebagai sosok pendiam dan penurut. Sejak bayi, ia tinggal bersama neneknya di sebuah pondok bambu sempit berukuran 2×3 meter di Desa Naruwolo. Kehidupannya jauh dari kemewahan; ibunya tidak bersamanya, sementara sang ayah merantau ke Kalimantan sejak sepuluh tahun lalu dan tak pernah kembali.

Kondisi ekonomi yang mencekik ini, menurut Bagong, merupakan faktor utama yang merusak kesejahteraan mental anak secara perlahan.

“Kondisi ekonomi yang sulit dapat menyebabkan stres dan kecemasan pada anak-anak. Ketika orang tua kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, anak-anak sering kali merasakan dampaknya secara langsung maupun tidak langsung,” jelasnya.

Bagong mendesak pemerintah untuk segera membangun community support system atau sistem dukungan komunitas melalui lembaga sosial lokal. Tujuannya agar ada jaringan pengaman emosional yang mampu menjangkau keluarga-keluarga di daerah dengan keterbatasan akses pendidikan dan ekonomi.

“Kesehatan mental anak harus menjadi prioritas. Dukungan sosial dari keluarga, teman, dan masyarakat sekitar sangat penting untuk mencegah kejadian serupa di masa depan,” tambahnya.

Tragedi ini menjadi bukti nyata bahwa kemiskinan tidak hanya menyerang fisik, tetapi juga mampu menghancurkan harapan dan mental seorang anak hingga ke titik paling nadir.


Ayo share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here