Waspada Orang Tua di Kabupaten Bandung agar Anak Tak Keracunan MBG Kalau Bau Jangan Dipaksa

0
13
Ayo share artikel ini

SPIPUSAT.COM BANDUNGĀ  – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah seharusnya menjadi angin segar bagi para orang tua siswa di Kabupaten Bandung. Namun, sejumlah kasus keracunan makanan yang sempat mencuat di berbagai daerah membuat sebagian orang tua kini lebih waspada. Mereka berupaya melakukan langkah antisipasi agar anak-anaknya tetap aman ketika menyantap makanan dari program tersebut. Bagi Rini (38), warga Kecamatan Ciparay, kekhawatiran itu nyata. Putrinya yang duduk di bangku kelas 4 SD memang mendapat jatah makan gratis di sekolah. Namun, ia selalu berpesan agar anaknya memperhatikan kebersihan makanan sebelum dimakan.

“Saya bilang ke anak, kalau makanannya terlihat basi atau berbau, jangan dipaksa. Lebih baik pulang lapar daripada sakit,” katanya dihubungi, Selasa (30/9/2025). Menurut Rini, ia juga kerap membekali anaknya dengan makanan dari rumah. Bukan untuk menolak program MBG, melainkan sebagai langkah berjaga-jaga. “Kadang saya bawakan roti atau buah. Jadi, kalau dia tidak cocok dengan makanan gratisan, masih ada cadangan,” katanya. Langkah serupa dilakukan oleh Ahmad (45), orang tua siswa SMP di Kecamatan Baleendah. Ia mengaku mendukung program MBG karena bisa meringankan pengeluaran harian. Akan tetapi, rasa khawatir tetap ada, terutama soal higienitas dapur penyedia. “Kita kan tidak tahu prosesnya di belakang. Daging, sayur, atau nasinya beli di mana, dimasak siapa, bersih atau tidak,” tutur Ahmad.

Ia bahkan sempat mendatangi sekolah untuk menanyakan standar dapur katering yang bekerja sama dalam program tersebut.

Meski pihak sekolah menjelaskan sudah ada pengawasan dari dinas terkait, Ahmad merasa perlu tetap mengingatkan anaknya. “Saya bilang, kalau perut mulai tidak enak setelah makan, segera lapor ke guru. Jangan diam saja,” kata Ahmad.

Kunci Waspada

Bagi Ahmad, kewaspadaan adalah kunci. Ia percaya pemerintah berniat baik, tetapi peran orang tua tetap penting. “Sekolah dan dinas kan mengawasi dari luar, tapi anak-anak sendiri yang jadi konsumen. Jadi mereka harus diajarkan untuk kritis terhadap makanan yang masuk ke tubuhnya,” tambahnya. Sementara itu, Siti (41), orang tua siswa SMA di Kecamatan Majalaya, mengaku memilih pendekatan berbeda.

Ia rutin memantau informasi di grup WhatsApp orang tua murid. Jika ada menu yang dirasa meragukan, ia lebih suka menyiapkan bekal sendiri. “Kadang ada menu dengan lauk olahan daging ayam yang cepat basi kalau tidak ditangani dengan benar. Nah, kalau kebetulan hari itu cuaca panas, saya lebih tenang kalau anak bawa bekal,” ujar Siti. Siti menilai, anak-anak usia SMA relatif lebih bisa diajak bicara soal risiko makanan. Ia tak segan memberikan contoh berita tentang kasus keracunan makanan kepada anaknya. “Saya bilang ke dia, jangan asal makan. Kalau ada yang aneh, lapor ke guru atau jangan dimakan,” ujarnya. Ia juga mengingatkan agar anak-anak selalu mencuci tangan sebelum makan, terutama jika harus menyantap makanan yang dibungkus kertas atau kotak plastik. “Kadang sederhana, tapi penting. Cuci tangan bisa mencegah banyak hal,” tambahnya.

Tak Sepenuhnya Buruk

Meski penuh kewaspadaan, ketiga orang tua itu sama-sama menilai program MBG tidak sepenuhnya buruk.

Bagi mereka, inisiatif pemerintah untuk membantu gizi anak sekolah sangat positif, hanya perlu pengawasan ketat agar kasus keracunan tidak berulang. Rini, misalnya, mengaku senang karena putrinya bisa merasakan variasi makanan sehat di sekolah. “Biasanya kan anak-anak susah makan sayur. Dengan MBG, dia jadi terbiasa karena semua temannya juga makan,” katanya. Ahmad pun merasakan hal serupa. Ia menghitung, dengan adanya program MBG, ia bisa menghemat hingga ratusan ribu per bulan untuk biaya makan anaknya di sekolah. “Lumayan besar, jadi saya bersyukur. Hanya saja, tetap harus ada jaminan kebersihan,” ujarnya.

Sementara Siti melihat MBG bisa mendorong kebiasaan makan bersama di sekolah. “Anak-anak jadi punya waktu makan yang lebih teratur, tidak jajan sembarangan. Itu sisi baiknya,” katanya. Meski begitu, mereka sepakat bahwa evaluasi terus-menerus sangat dibutuhkan. Rini menekankan, pemerintah tidak boleh lengah. “Jangan sampai kasus keracunan dianggap sepele. Anak-anak itu kan generasi penerus, harus dijaga,” tegasnya. Ahmad juga menyoroti perlunya transparansi bahan makanan. Ia berharap sekolah bisa lebih terbuka soal pemasok bahan dan proses memasaknya. “Kalau jelas, orang tua juga lebih tenang,” katanya. Siti menambahkan, kolaborasi orang tua dan sekolah harus ditingkatkan. Menurutnya, orang tua sebaiknya dilibatkan dalam tim pengawas, bukan hanya dinas dan guru. “Kalau ada perwakilan orang tua, pengawasan bisa lebih menyeluruh,” ujarnya. Di balik kewaspadaan, ada harapan besar agar MBG tetap berjalan dengan baik.

Mereka percaya, dengan perbaikan sistem dan pengawasan, program ini bisa benar-benar membantu anak-anak tumbuh sehat tanpa risiko. Mereka pun sepakat, peran orang tua tidak boleh berhenti hanya pada rasa khawatir.


Ayo share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here