PKL di Sekitar SKA Resahkan Warga, Satpol PP Pekanbaru Intensifkan Penertiban

0
5
Ayo share artikel ini

SPIPUSAT.COM PEKANBARU – Aktivitas pedagang kaki lima (PKL) di kawasan sekitar Mal SKA, Pekanbaru, kian meresahkan masyarakat. Lapak yang menggunakan trotoar hingga badan jalan tidak hanya mengganggu pejalan kaki, tetapi juga memicu kemacetan, terutama pada sore hingga malam hari.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Satpol PP Kota Pekanbaru, Desheriyanto, mengatakan kawasan SKA menjadi salah satu titik prioritas penertiban karena tingginya aktivitas PKL dan dampaknya terhadap ketertiban umum.

“Di kawasan SKA ini memang menjadi perhatian kami. Aktivitas PKL cukup tinggi, terutama sore hingga malam, dan banyak yang menggunakan trotoar serta badan jalan sehingga mengganggu kelancaran lalu lintas,” ujar Desheriyanto kepada GoRiau.com, Rabu (8/4/2026)

Ia menegaskan, penertiban tidak hanya difokuskan di satu lokasi, tetapi juga dilakukan di sejumlah titik lain seperti Jalan HR Soebrantas, Jalan Arifin Ahmad, hingga Jalan Diponegoro.

“Penanganan ini kami lakukan secara menyeluruh. Di Soebrantas, khususnya di kawasan pasar jongkok, juga cukup tinggi aktivitasnya. Begitu juga di Arifin Ahmad dan Diponegoro yang setiap hari kami lakukan pengawasan,” katanya.

Di lapangan, Komandan Regu (Danru) Pleton 6 Satpol PP Pekanbaru, Hendri, menyebutkan pihaknya rutin melakukan penyisiran di sejumlah ruas jalan, termasuk dari Jalan Arifin Ahmad hingga ke kawasan SKA.

“Dari kantor kami menyisir sepanjang Jalan Arifin Ahmad, terutama di trotoar, sampai ke SKA. Satu pleton lainnya bergerak di Jalan Soebrantas, khususnya di titik pasar jongkok,” ujar Hendri saat ditemui di lokasi.

Menurut dia, saat petugas turun ke lapangan, sebagian besar PKL memilih meninggalkan lokasi. Namun, penertiban tetap dilakukan dengan pendekatan persuasif.

“Biasanya mereka langsung kabur saat melihat petugas datang. Tapi kami tetap melakukan pendekatan humanis, berupa imbauan agar tidak berjualan di lokasi terlarang. Ini masih tahap pembinaan,” katanya.

Hendri menambahkan, jumlah PKL yang terjaring dalam kegiatan penyisiran tergolong cukup banyak, sehingga pengawasan harus dilakukan secara konsisten.

“Lumayan banyak yang kami temukan saat penyisiran. Karena itu, kegiatan ini terus kami lakukan setiap hari,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa penugasan ini telah berjalan sekitar satu bulan terakhir, sesuai instruksi pimpinan.

“Sudah satu bulan kami diminta standby di beberapa titik seperti SKA, Masjid Agung, dan sepanjang Diponegoro sampai Soebrantas. Kalau pagi biasanya di Diponegoro, Masjid Agung, dan Sisingamangaraja. Kalau di SKA mulai sore sampai malam, sekitar pukul 16.00 sampai 21.00 atau 22.00 WIB,” kata Hendri.

Menanggapi adanya pergeseran PKL dari kawasan SKA ke lokasi lain, seperti di sekitar Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI), Hendri memastikan pihaknya akan kembali melakukan penyisiran.

“Kalau ada yang pindah lokasi, tentu akan kami tindak lanjuti dengan penyisiran kembali. Jadi pengawasan ini terus bergerak,” ujarnya.

Sementara itu, Desheriyanto menegaskan bahwa penertiban dilakukan setiap hari dengan pendekatan yang mengutamakan sisi kemanusiaan.

“Kami lakukan pengamanan dan penertiban setiap hari sampai kondisi ini bisa tertata. Pendekatannya masih humanis dan persuasif, belum represif,” ujarnya.

Ia mengakui, penanganan PKL memiliki tantangan tersendiri karena sifatnya yang dinamis.

“Fenomena PKL ini memang seperti itu. Kita masuk, mereka keluar. Setelah kita pergi, mereka kembali lagi. Karena itu, pengawasan harus terus dilakukan,” kata Desheriyanto.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa pemerintah tidak melarang masyarakat untuk berusaha, selama tidak melanggar aturan dan mengganggu kepentingan umum.

“Kami tidak melarang masyarakat mencari nafkah. Tapi harus sesuai aturan, tidak menggunakan trotoar atau badan jalan. Ini demi kenyamanan bersama,” ujar Desheriyanto.


Ayo share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here