BGN Ungkap Akar Keracunan MBG: Nitrit Tinggi dari Lahan Pertanian Jadi Biang Keladi

0
13
Ayo share artikel ini

SPIPUSAT.COM JAKARTA – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, membeberkan temuan yang mengemuka di balik maraknya kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IX DPR RI, Rabu (12/11/2025), ia menyebut tingginya kandungan nitrit pada bahan pangan menjadi pemicu utama gangguan kesehatan yang dialami ribuan penerima manfaat MBG.

Dadan menjelaskan sejumlah wilayah seperti Garut, Cianjur, Bandung Barat, dan Sleman masuk kategori daerah endemik nitrit tinggi. Kondisi itu diduga berkaitan dengan penggunaan nitrogen berlebih dalam proses budidaya tanaman. “Kemungkinan karena petani memberikan nitrogen terlalu banyak, sehingga tanaman ikut menyerap nitrit secara berlebih,” terangnya.

 

 

Dampak kontaminasi tidak hanya ditemukan pada air, tetapi juga pada buah dan sayuran. Di Bandung Barat, tiga anak dilaporkan mengalami gangguan pencernaan setelah mengonsumsi melon yang diduga mengandung nitrit dalam kadar tinggi. Kasus serupa terdeteksi pada sayuran segar yang dipasok dari kawasan pertanian sekitar.

“Ada tiga anak sakit hanya karena makan melon. Kemungkinan melon itu mengandung nitrit berlebih, termasuk sayuran lainnya,” sambungnya.

 

 

Situasi ini menjadi sorotan nasional karena Jawa Barat merupakan pemasok utama bahan baku program MBG. Untuk menekan risiko berulang, BGN melakukan konsolidasi dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), ahli gizi, serta anggota DPR di daerah endemik. Pengawasan terhadap bahan baku di tingkat petani juga akan diperketat.

Menurut Dadan, perbaikan sistem kontrol dapur umum MBG tengah dilakukan agar makanan yang didistribusikan tetap aman bagi jutaan penerima manfaat. Hingga November 2025, BGN mencatat 211 kasus keracunan yang terkait MBG dengan total 11.640 korban. Dari jumlah tersebut, 636 korban dirawat inap dan 11.004 menjalani perawatan jalan. Pulau Jawa menjadi wilayah dengan angka tertinggi mencapai 7.925 korban, disusul kawasan timur 1.907 korban dan Sumatera 1.808 korban.

BGN juga mencatat adanya perbedaan data dengan Kementerian Kesehatan yang melaporkan 13.371 penerima manfaat mengalami gangguan kesehatan terkait MBG.

Meski dihantui kasus keracunan yang terus meningkat, Dadan menegaskan secara umum program MBG tetap berjalan. Dari Januari hingga November 2025, program ini telah memproduksi 1,8 miliar porsi makanan bergizi yang disalurkan kepada anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di seluruh Indonesia. “Alhamdulillah, sebagian besar berjalan dengan baik,” ujarnya.


Ayo share artikel ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here